GEMA JAVARAYA – Satu lagi Anak Bangsa ini berpulang dalam “ketidak-berdayaan”, ia bernama Jhoni Malela, korban meninggal pada antrian acara open house yang dilaksanakan di Istana Negara. Sebagai sesama anak bangsa, saya hanya bisa berucap “selamat jalan saudaraku, semoga tenang di Alam Keabadianmu”

Ramadhan dan Idul Fitri merupakan momentum umat muslim untuk mengoptimalkan kebaikan, tak terkeculi bapak Presiden SBY tentunya. Bapak presiden selaku Kepala Negara menaruh perhatian yang begitu besar kepada rakyatnya dengan “membuka pintu” istana.

Begitupun rakyat dengan antusias dan berbondong-bondong menyambut niat baik Bapak Presiden, mereka rindu bertemu Sang Pemimpin.

Sebagai seorang presiden, Bapak SBY tentu tidak memiliki waktu yang cukup untuk memikirkan mekanisme dan tehnik pelaksanaan dari niat baiknya, tapi beliau memiliki staff dan “para pembantu” yang tentunya lebih kapabel untuk mendesain proses pelaksanaanya. Begitupun rakyat, karena begitu girangnya, sehingga mereka terkadang lupa akan keselamatan pribadinya terlebih (maaf) para tunanetra, yang tak mampu melihat jalan masuk istana, tentu butuh “tuntunan” yang benar.

“Tragedi” kematian pengunjung open house ini, kiranya dapat membuka mata bagi semua Anak Bangsa, untuk menata kembali negri ini menjadi lebih baik.

Sejauh motivasi masyarakat ke Istana tulus untuk bertemu Bapak Kepala Negara, tentu hal itu sangat mulia dan harus didukung, tetapi sangat disayangkan apabila (terdapat) rakyat yang memiliki motivasi ke Istana hanya untuk sekedar mendapatkan sesuatu (sebut saja sejumlah uang angpao), ini sangat ironis. Tentu kita semua sepakat bahwa setiap kebaikan harus dilakukan dengan cara yang benar pula. Dalam hal ini, bukan hanya sekedar mencapai tujuan tetapi proses untuk mencapai tujuan itu haruslah proses yang benar. Dan bukankah sudah diperintahkan bahwa seharusnya “Apa yang dilakukan oleh tangan kananmu (dalam hal kebaikan) hendaknya jangan dilihat oleh tangan kirimu”

Setiap niat baik harus didasari oleh 2 (dua) hal, yaitu tulus dan cara yang benar, jika salah satu atau kedua dasar tersebut tidak terpenuhi, maka sesungguhnya yang dilakukan seseorang hanyalah (dalam bahasa saya) bertransaksi. Saya ingin mengajak para pembaca untuk merefleksi kembali ajaran agama masing-masing. Dalam pandangan saya terdapat 3 (tiga) hal inti atau saya sebut sebagai  Tiga Hubungan Baik, yaitu :

Tiga Hubungan Baik

  1. Hubungan baik antara Manusia (AKU) dengan Sang Pencipta (Allah/TUHAN)
  2. Hubungan baik antara Manusia (AKU) dengan Manusia (ANDA)
  3. Hubungan baik antara Manusia (AKU) dengan Lingkungan/makhluk lain (ALAM)

Tiga hubungan itu dibangun untuk satu tujuan yaitu terciptanya HARMONI KEHIDUPAN, dalam bahasa lain disebut sebagai Kerajaan Allah, atau Surga yang Nyata.

Secara relita, setiap orang harus mampu membangun hubungan yang baik dengan Sang Pencipta, dalam hal ini tidak sekedar mencantumkan identitas agama, tetapi lebih jauh lagi menyangkut hubungan yang tertutup  antara (seorang) pribadi dan TUHAN, dengan demikian setiap pribadi memiliki cara dan bentuk yang ideal bagi dirinya untuk berhubungan dengan Sang Pencipta, dan inilah spiritualitas yang sesungguhnya.

Hubungan yang baik dengan Sang Pencipta harus termanifestasi dalam kehidupan nyata yakni terbangunnya hubungan yang baik antar AKU (pribadi) dengan ANDA (pribadi lainnya), dalam pandangan saya setiap hubungan antar manusia harus didasari oleh semangat partnership (kemitraan). Prinsip dasar Partnership adalah hubungan dalam posisi sejajar dan saling menguntungkan. Prinsip posisi sejajar sangat penting, sebab jika setiap pribadi mampu memandang pribadi lain dalam posisi yang sama dengan dirinya, hal ini akan menjadi dasar bagaimana ia memperlakukan sesamanya manusia. Semangat saling menguntungkan, mengandung makna bahwa dalam membangun hubungan haruslah merupakan hubungan yang bermanfaat bagi setiap pihak, setiap tindakan senantiasa memikirkan dampak manfaatnya bukan hanya bagi dirinya tetapi juga juga bagi mitranya, sehingga setiap pribadi harus memiliki kepribadian yang baik (Mentalitas) dan ber-Etika, dengan demikian tidak ada lagi istilah “yang penting gue hidup, yang lain-emang gue pikirin…!”,

Manusia tak akan hidup tanpa ALAM, sebab melalui ALAM, Sang Pencipta menyediakan sumber kehidupan bagi semua manusia, tak kan mungkin bagi manusia menyediakan sumber kehidupan bagi dirinya tanpa alam sekitar yang baik, untuk itu harus dibangun hubungan yang baik dengan lingkungan sekitar, agar rantai kehidupan tidak terputus.

Untuk tiga hubungan inilah para Nabi dan Maha Guru diutus oleh Sang Pencipta.

Melalui peristiwa di depan Istana, mari bertanya pada diri masing-masing,

“Sudahkah saya menjadi bagian dari terciptanya Harmoni Kehidupan/Kerajaan Allah/Surga yang Nyata, sehingga tidak ada lagi jhoni-jhoni yang lain yang harus menjadi korban berikutnya”

Semoga Bermanfaat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*