GEMA JAVARAYA – Di suatu pagi beberapa tahun silam, mas Haryo, tetangga samping rumahku, berteriak-teriak memanggilku “mas.. mas..! bangun..!”,

“ono opo to mas, pagi-pagi kok sudah ribut” sahutku dari dalam rumah sambil bermalas-malasan untuk beranjak.

“mas sampean ndak ngesara ada gempa to, jogja hancur, kena gempa” lanjut mas Haryo. “Moso’ to, lha terus sampean mau ke sana?” tanyaku agak kaget mendengar kabar itu. Jarak kotaku dengan yogyakarta tidaklah begitu jauh, dan getaran gempa dirasakan di kotaku saat itu.

“ndak mas, aku cuma mau sampaikan siapa tau sampean punya pakaian bekas yang sudah ndak dipakai, di pak RT ada Posko Bantuan, bawa aja kesana” kata mas Harya sembari meninggalkanku menuju ke rumah pak RT.

itu adalah sepenggal kisah singkat, tentang kepedulian anak manusia terhadap sesamanya. Lanjut cerita saya mengumpulkan sekitar satu karton pakaian bekas layak pakai yang selama ini cuma tersimpan di lemari dan tidak pernah dipakai dan membawanya ke Posko Bantuan di rumah pak RT.

Sering kita “berniat baik” untuk memberi, “melepaskan” yang kita miliki, tapi secara tidak sadar, sebenarnya kita sedang membuang sesuatu yang tidak dibutuhkan lagi.

Dalam sebuah “literatur” diceritakan, ada seorang janda miskin yang hanya memiliki 2 keping dinar, tetapi karena cintanya kepada sang Pencipta, ia dengan tulus iklas “melepaskan” apa yang dimilikinya untuk dipersembahkan bagi kebaiakan sesama.

Dan ada pula petuah lain yang mengatakan “Jika engkau memiliki dua helai baju, maka berikanlah sehelai bagi mereka yang telanjang (membutuhkan)”

Memberi = Melepaskan milik berharga (bagi si pemilik) untuk diserahkan dan dimanfaatkan bagi yang membutuhkan.

Membuang = Melepaskan milik yang sudah tidak dibutuhkan (oleh si pemilik)

Berikut kisah lain yang tak kalah menariknya, peristiwa ini terjadi saat eforia pemilihan anggota legislatif tahun 2009, ceritanya demikian :

Alkisah ada seorang ibu yang punya cita-cita mulia ingin menyalurkan “aspirasinya” dengan menjadi anggota Dewan (baca DPRD), suatu ketika ia mendatangi perkumpulan ibu-ibu (kelompok Doa)  di suatu desa. Kepada ibu-ibu yang berjumlah 50 orang itu, ia bermaksuk “Baik” untuk menyumbangkan 50 buah kursi plastik yang dapat digunakan untuk acara kelompok tersebut. Singkat cerita saat itu langsung diserahkan 30 kursi plastik, sedangkan 20 kursi lainnya akan diserahkan sesaat setelah pemungutan suara usai. Sebelum meninggalkan perkumpulan ibu-ibu tersebut, Si Caleg berpesan “Mohon doa restu ya bu’ di pemilu nanti”, dan iapun pulang.

Beberapa minggu dari peristiwa itu, pemilu pun digelar serentak di seluruh indonesia. Malang benar nasib si Caleg tadi, di TPS tempat ia “menyumbang” kursi, ia cuma mendapatkan 5 suara.

Sehari kemudian “tim suksesnya” mendatangi kelompok ibu-ibu, dan mengambil kembali 25 kursi yang pernah diserahkan si Caleg.

Seorang ibu dari kdelompok itu bertanya “Mas, kok kursinya diambil lagi? Bukannya sudah diberikan kepada kelompok kami?”,

sambil kesal si “tim sukses” menjawab “makanya bu’ tau balas budilah, sudah dibantu tidak tau terimakasih (baca : tidak mencoblos si caleg)”,

Si ibu tadi tidak kalah sewotnya “Lho mas, dia itu memberi kursi atau membeli suara? Bukannya dia bilang minta doa restu? Kami kan sudah doakan? Kalau tidak ada yang nyoblos dia bukan salah kami dong!”

Begitulah sepenggal kisahnya, ibu Caleg ini, punya “niat baik” yaitu “memberi” tapi sesungguhkan yang ia lakukan bukan memberi tapi membeli (baca : bertransaksi)

Dalam kesehariaan kita, tanpa disadari sering kita menuntut terhadap apa yang sudah kita berikan (lakukan), mungkin berupa imbalan, atau sekedar pengakuan atas tindakan kita atau bahkan berharap pujian, jika demikian sesungguhnya kita tidak sedang memberi tetapi hanyalah sekedar bertransaksi.

Bertransaksi = Menukar milik dengan milik orang lain

Mari kita renungkan petuah bijak ini :  “Jika engkau memberi dengan tangan kananmu, hendaknya jangan terlihat oleh tangan kirimu”

Memberi, Membuang ataukah bertransaksi, selama ini yang Anda lakukan???

Semoga Bermanfaat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*