Membangun Spiritualitas

by yudhi trisnanta

Damai itu Indah

Mencermati peristiwa yang terjadi hari minggu (12/09) lalu, dimana sekelompok orang menyerang kelompok lain sehingga jatuh korban, membuat saya tergerak untuk menelaah persoalan ini secara jernih. Seperti peristiwa-peristiwa lain, banyak orang lantas latah menyampaikan komentarnya. Banyak sekali komentar di masyarakat berkaitan dengan hal ini, tetapi semua itu berdasarkan persepektif atau cara berfikir masing-masing.

Ada dua komentar yang saya ingin angkat pada tulisan saya kali ini, Pertama, komentar yang mengatakan “Peristiwa ini bukan konflik antar umat beragama”

Saya sangat sepakat dengan komentar ini, karena saya masih ingat kala di bangku SD dulu, ibu guru mengajarkan – secara harfiah kata agama terdiri dari : ‘a’ berarti ‘tidak’ dan ‘gama’ berarti ‘kacau’, jadi agama bermakna ‘tidak kacau’ –  saya  kemudian menyimpulkan bahwa orang/umat yang beragama berarti orang/umat yang (tidak kacau) terarah atau terpimpin menuju kepada kebenaran yang didasarkan pada ajaran kebenaran agama yang dianutnya. Sehingga setiap orang yang beragama akan senantiasa menampilkan kehidupan yang dianjurkan oleh agamanya.

Faktanya : “Apakah tindakkan penyerangan, kekerasan atau kebrutalan mencerminkan perilaku umat beragama?”  – Tentu bukan –

Komentar kedua : “Tindakan penyerangan merupakan murni kriminal”

Ya, tepat sekali, sebab tindakan penyerangan tersebut tidak bisa dikategorikan sebagai lelucon atau sandiwara atau gladiresik atau bohong-bohongan atau cuma main-main atau sekedar gerakan protes alias demonstrasi. Dalam peristiwa tersebut jatuh korban, ada pelaku, ada saksi dan ada barang bukti, sehingga jelas dan pasti merupakan tindakan kriminal.

Yang harus dilakukan :  usut tuntas kasus ini, tangkap pelakunya, ungkap motivasinya segingga tidak muncul komentar-komentar yang multi interprestasi.

Merupakan hak bagi setiap orang (baik sendiri atau berkelompok) untuk mendapatkan ketenangan dan kenyamanan dalam hidupnya, akan tetapi ketenangan atau kenyamanan itu tidak boleh diperoleh dengan cara-cara yang justru merusak kenyamanan ataupun ketenangan baik bagi dirinya atau orang lain disekitarnya.

Demikian pula dalam hal ibadah, setiap orang (baik sendiri atau berkelompok) memiliki hak asasi untuk hal ini, boleh dimana saja dengan cara apa saja. Cara (ritual) ibadah boleh bervariasi, dan tentu setiap orang memiliki cara yang paling ideal buat dirinya atau biasanya orang melakukan sesuai dengan cara menurut ajaran agamanya.

Boleh (ibadah) sendiri-sendiri, boleh juga bersama-sama. Boleh (ibadah) secara hening dan boleh juga dengan suara keras (kalau tidak mau dibilang teriak). Akan tetapi bagi siapa saja (baik sendiri/berkelompok) yang merasa cara ibadah yang ideal dengan bersuara hingga suara itu terdengar oleh orang lain disekitarnya dan orang lain tersebut menganggap suara itu sebagai sumber ketidaknyamanan, maka saran saya carilah tempat (beribadah) yang terpisah dari komunitas lain atau didaerah-daerah “tersembunyi”. Bukankah hanya TUHAN yang berhak mendengar doa setiap orang? Dan IA melihat dimana saja Anda berada. Coba Anda pikirkan, kalau orang lain saja tidak senang dengan suara yang kita keluarkan, bagaimana dengan TUHAN? Tidakkah sebaiknya “berdamai dahulu dengan sesama sebelum ‘berhubungan’ dengan TUHAN?”

Saya kemudian teringat kata-kata seorang teman, namanya mas Khalil Gibran, ada orang yang menjulukinya sang nabi, ia berkata “Salah satu tindakan sia-sia adalah ‘memuji’ TUHAN”. Mendengar ini saya sontak protes “Mas Gibran ini gimana, orang menjulukimu sang nabi, kok ternyata malah ngajak orang jadi atheis, aku ga’ bisa trima , wong bangsaku ini bangsa yang religius alias beragama!!!”. Teman saya itu cuma senyum-senyum mendengar protes saya. Kalau demikian saya harus buktikan kebenaran kata-kata itu, pikir saya saat itu.

Langkah pertama…., di tempat kerja saya mulai menyapa teman-teman dengan ucapan pujian “Hai mbak, kamu cantik sekali hari ini” atau “wah…, mas penampilanmu hari ini keren sekali….” dan lain sebagainya. Rupanya mereka yang saya puji menjadi “besar kepala” dan begitu kooperatif dengan saya.

Kemudian di hari yang lain saya coba mengatakan ini “mbak, kamu itu kerjanya ngak bener, cuma bersolek aja dari tadi, kalau emang merasa cantik, kenapa ngak laku-laku?”. Spontan dia cemberut dan seharian ngebetein. Rupanya pada umumnya manusia itu senang dengan pujian walaupun terkadang apa yang didengarnya tidak sesuai dengan kenyataan dirinya, misalnya kata ‘cantik’, walaupun pada kenyataanya sesorang ‘tidak cantik’ tapi hampir semua wanita paling mendambakan pujian kata “cantik”

Langkah kedua saya lakukan dengan “mengajak” beberapa teman (dari berbagai agama) supaya tidak “memuji” TUHAN lagi untuk kurun waktu yang sudah saya tentukan. Awalnya mereka menolak setelah saya jelaskan dan saya katakan semua dosa saya yang tanggung, dan ini untuk tujuan mencari kebenran, akhirnya mereka ikut.

Waktu yang saya tetapkan usai, saya pun bersama ‘tim peneliti’ pulang ke rumah masing-masing, tetapi yang  apa terjadi  : ketika jamnya tiba, dari masjid di dekat rumah saya tetap terdengar alunan “Allahhuakbar……..” (maaf bila penulisan kurang tepat) dan ketika hari minggu tiba, seorang Pastor di gereja berkata “Allah yang Kekal …”

Lho…… kok Allah tetap Maha Besar…..? kok Allah tetap Maha Kekal…..? bukankah saya sudah mengajak teman-teman  untuk beberapa waktu ini tidak “memuji”-Nya?

Rupanya, mas Gibran benar, tanpa harus dipuji-puji, tanpa harus dielu-elukan, tanpa harus diagung-agungkan,  tanpa harus dibaik-baikin, tetap pada kenyataannya Allah Maha Mulia, Allah Maha Kekal, Allah Maha Besar, Allah Maha Baik dan Allah Maha Segalanya. Tidak bertambah atau berkurang sedikitpun ke Maha-anNya, saat manusia memujiNya atau saat manusia melupakanNya.

Jika demikian, lantas untuk apa di setiap tengah malam begitu banyak jiwa-jiwa terjaga untuk bertahajud? Berjuta-juta manusia larut dalam keheningan melafalkan doa? Di biara-biara tak henti-henti uliran tasbih bergulir dalam untaian kata bermakna? Berduyun-duyun sekelompok manusia ke masjid/gereja/pura/kelenteng/wihara??? …………… Jika ternyata “memuji” TUHAN adalah hal yang sia-sia.

Jawabannya adalah :

“Setiap ibadah (doa) hanya ada satu tujuan yaitu ‘Membangun Hubungan Baik’ dengan TUHAN Sang Maha Pencipta, dan setiap doa yang hanya sekedar ‘memuji’-Nya adalah sia-sia”

Sudahkah doa Anda bukan hanya sekedar “memuji” TUHAN? Hanya Andalah yang dapat menjawabnya.

Sesungguhnya TUHAN itu adalah : Sahabat yang sejati, Kekasih hati yang selalu mencintai, Ayah yang selalu melindungi, Ibu yang penuh kelembutan, Penolong yang selalu ada.

Jalinlan Hubungan Yang Baik dengan-Nya sehingga tak akan ada lagi korban-korban berikutnya, sebab DAMAI ITU INDAH.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*