Bunga dan Buah

GEMA JAVARAYA – Jika limabelas tahun lalu dengan limaratus rupiah sudah bisa makan nasi-ayam di warung sekitar kost-kostsan mahasiswa, tapi hari ini dengan gopek hanya dapat cakar ayamnya doang, plus ngiler nonton orang makan nasi-ayam.

Begitulah sifat uang. Itulah yang disebut dengan konsep: nilai waktu dari uang, yang istilah kerennya orang Jawa sebut dengan time value of money. Sebuah konsep yang sangat sederhana sekali namun dalam implementasi dan pengembangannya mampu melahirkan banyak produk investasi dan sekaligus strategi investasi.

Konsep ini sebenarnya ingin mengatakan bahwa jika Anda punya uang sebaiknya (bahkan seharusnya) diinvestasikan sehingga nilai uang itu tidak menyusut dimakan waktu. Sebab, jika uang itu didiamkan, ditaruh di bawah bantal, brankas, atau lemari besi maka uang itu tidak bekerja dan karenanya nilainya semakin lama semakin turun.
Apapun jenis atau pilihan investasinya, yang penting harus ada upaya mengarah ke sana. Pemilik uang tinggal menentukan pilihan investasi sesuai dengan karakternya masing-masing. Bagi pemilik modal atau pemodal yang maunya aman-aman saja, tidak suka risiko (risk averter), maka bisa memilih jenis investasi deposito atau instrument investasi lainnya yang resikonya kecil seperti emas atau tanah.

Bagi pemodal yang menyukai tantangan atau risiko (risk taker) maka dia bisa memilih jenis instrumen yang menjanjikan pertumbuhan tinggi, dengan risiko yang juga tinggi, seperti saham.

Dengan konsep time value of money, pemodal bisa memprediksi berapa nilai uangnya pada masa mendatang, berapa pertumbuhan setiap tahunnya. Apakah pertumbuhan uangnya itu seimbang dengan laju inflasi setiap tahun atau tidak? Jika pertumbuhan imbal hasil investasi masih lebih rendah dibandingkan laju inflasi maka berarti pertumbuhan uang pemodal masih ketinggalan dibanding peningkatan harga barang. Jika uang Anda hanya tumbuh tujuh persen setahun, sementara pertumbuhan harga barang (inflasi) mencapai sembilan persen setahun maka sebenarnya uang Anda masih mengalami penyusutan dibandingkan nilai barang.

Nah, jika investor mampu menghasilkan imbal hasil cukup tinggi dengan stabil setiap tahun, maka dia bisa memprediksi berapa nilai kekayaan yang dikumpulkan pada masa mendatang. Andai diasumsikan imbal hasil stabil di kisaran 20 persen per tahun, maka dengan konsep time value of money, investor bisa menghitung pertumbuhan uangnya.
Jika yang diinvestasikan Rp100 juta, maka pada akhir tahun pertama akan menjadi Rp120 juta, pada akhir tahun ke dua naik lagi menjadi Rp144 juta, pada akhir tahun ke tiga tumbuh lagi menjadi Rp172,8 juta. Begitu seterusnya mengikuti formula time value of money

Dalam kehidupan sehari – hari, tentunya hampir semua orang memiliki kartu kredit, yang saat ini gencar dipromosikan oleh sektor perbankan. Kartu kredit memberikan banyak sekali manfaat tapi bila pemakaiannya tidak bijak bisa menjadi bumerang bagi keuangan pemakainya.

Misalkan saja melakukan belanja sebesar Rp 5 juta dengan kartu kredit untuk suatu hal yang tidak dibutuhkan bulan ini kemudian pembayaran dilakukan dengan nilai minimum pembayaran dari tagihan tersebut setiap bulannya. Dengan bunga bulanan kartu kredit misalkan 3 persen, maka dibutuhkan waktu lebih dari delapan tahun untuk melunasi pembelanjaan yang dilakukan (Rp 5 juta). Dapat diketahui berapa bunga yang harus dibayarkan? Lebih dari Rp 5,7 juta, sungguh fantastis.

Sebaliknya bila keputusan yang berbeda diambil, yaitu dengan menginvestasikan Rp 5 juta tersebut dalam bentuk Reksadana maka hasilnya tentunya akan berbeda. Bila diinvestasikan Rp 5 juta dalam bentuk Reksadana dengan harapan keuntungan wajar sebesar 12 persen, maka dalam delapan tahun dana tersebut akan berkembang lebih dari Rp.12 juta-an.

Ini merupakan contoh klasik dari pilihan kecil dalam kehidupan sehari-hari. Bila dilihat dalam waktu panjang, hal ini dapat merubah hidup seseorang. Mungkin tidak semua orang dapat mengingat semua keputuan kecil yang diambil seputar belanja atau menabung selama hidupnya. tapi satu hal yang menjadi rahasia terbesar dalam mengelola keuangan keluarga / pribadi  adalah kekuatan waktu dalam mengembangkan uang tersebut (nilai waktu terhadap uang).

Konsep Anuitas (Annuity)

Anuitas adalah merupakan satu arus (stream) kas yang tetap setiap periodenya. Beberapa contoh dari perhitungan anuitas dalam keuangan individu, misalnya cicilan bulanan kredit mobil atau rumah dan pembayaran biaya kontrak rumah bulanan. Arus kas ini bisa merupakan arus kas masuk sebagai pengembalian atas investasi maupun arus keluar yang dialokasikan sebagai tujuan investasi. Atau dengan kata lain anuitas adalah serangkaian pembayaran dalam jumlah yang sama yang dilakukan pada interval waktu tetap selama periode waktu tertentu. Jika pembayaran timbul pada akhir setiap periode, seperti yang biasa dilakukan, maka anuitas ini disebut anuitas biasa atau ditangguhkan. Jika pembayaran dilakukan pada awal setiap periode, maka anuitas itu disebut anuitas jatuh tempo (anuitas due)

a. Nilai Masa Depan Anuitas (Future Value Annuity)

Nilai masa depan anuitas memberikan nilai dari sebuah perencanaan tabungan yang dilakukan secara tetap baik besaran dan waktunya selama jangka waktu tertentu, Misalkan kita memutuskan untuk menyisihkan atau menabung sebesar nilai tertentu setiap awal atau akhir tahun selama kurun waktu tertentu untuk persiapan dana di saat pensiun, tentunya dengan asumsi bahwa bunga diberikan oleh bank atas tabungan tersebut, maka dapat dihotung berapa jumlah dana yang terkumpul selama kurun waktu tersebut.

  • Anuitas Biasa

Sebuah anuitas biasa atau ditangguhkan terdiri dari serangkaian pembayaran dalam jumlah sama yang dilakukan pada akhir setiap periode.

Untuk menghitung anuitasnya dapat digumnakan persamaan berikut ini :

FVAn = P (1+i)n-1 + P (1+i)n-2 + P (1+i)n-3 + … + P (1+i)0

Jadi

nFVAn = P ?(1+i)n-t

t=1

dengan :

FVAn : future value annuity n-tahun

P         : pembayaran

i           : interest

Ilustrasi, misalkan kita memiliki uang Rp. 100.000.000,00 dan menabungnya pada setiap akhir tahun, selama tiga tahun pada rekening tabungan pada sebuah bank yang akan membayar bunga sebesar 5%, maka yang akan diterima pada akhir periode adalah sebagai berikut :

Diketahui :

P = Rp. 100.000.000,00

i  = 5 % = 0,05

n = 3 tahun

maka :

n

FVAn = P ?(1+i)n-t

t=1

FVA3 = Rp.100.000.000,00  [(1+0,05)3-1 + (1+0,05)3-2 + (1+0,05)3-3]

FVA3 = Rp 100.000.000,00  [(1+0,05)2 + (1+0,05)1 + (1+0,05)0]

FVA3 = Rp 100.000.000,00  (1,1025 + 1,05 + 1)

FVA3 = Rp 100.000.000,00  (3,1525)

FVA3 = Rp 315.250.000,00

Jadi nilai masa depan (future value) dari anuitas Rp. 100.000.000,00 selama 3 tahun adalah Rp. 315.250.000,00

Dari persamaan :

n

FVAn = P ?(1+i)n-t

t=1

penjumlahan pada persamaan disebut sebagai future value interest factor for an annuity (FVIFAi,n) yang dapat kita tulis dalam bentuk lain sebagai berikut :

FVIFAi,n = [(1+i)n – 1 ] / i

Sehingga untuk menhitungnya lebih sederhana, dan persamaannya menjadi :

FVAn = P  (FVIFAi,n)

  • Anuitas Jatuh Tempo

Bila anuitas yang pembayarannya dilakukan pada setiap awal periode, maka anuitas ini dinamakan anuitas jatuh tempo.

Untuk menghitung nilai anuitas jatuh tempo, dapat digunakan persamaan  berikut :

FVAn(Jatuh Tempo) = P  (FVIFAi,n) (1 + i)

Dengan :

FVAn : future value annuity n-tahun

P                     : pembayaran

i                       : interest

FVIFAi,n : future value interest factor for an annuity

Dari ilustrasi sebelumnya, apabila sejumlah Rp. 100 juta tersebut dibayar pada setiap awal tahun dengan suku bunga  5 % selama tiga tahun, maka anuitas jatuh tempo dapat dihitung sebagai berikut :

Sudah dihitung sebelumnya nilai FVIFA adalah 3,1525, sehingga

FVAn(Jatuh Tempo) = Rp.100.000.000,00 (3,1525) (1,05)

= Rp.331.012.500,00

Jadi nilai masa depan (future value) dari anuitas jatuh tempo untuk Rp. 100.000.000,00 selama 3 tahun adalah Rp.331.012.500,00

b. Nilai Sekarang Anuitas (Present Value Annuity)

Misalkan sekarang kita diperhadapkan oleh suatu kenyataan bahwa kita membutuhkan dana dengan jumlah tertentu setelah tidak lagi bekerja pada perusahaan swasta yang tidak memberikan uang pensiun, sehingga dengan kurun waktu yang masih ada yang memungkinkan kita bekerja, dapat disisihkan sejumlah nilai tertentu dari penghasilan dengan asumsi bank memberikan bunga setiap tahunnya untuk tabungan tersebut.

Dari nilai yang kita tetapkan dan jangka waktu yang ada serta tingkat suku bunga bank saat ini, dapat ditentukan besaran yang harus ditabung setiap tahunnya, baik dilakkukan pada awal tahun maupun di akhir tahun.

  • Anuitas Biasa

Jika pembayaran anuitas dilakukan pada setiap akhir tahun, maka anuitasnya adalah anuitas biasa, untuk menghitung nilai sekarang (present value) dari anuitas biasa, dapat digunakan persamaan berikut :

PVAn = P [1 / (1+i) ]1 + P [1 / (1+i) ]2 + P [1 / (1+i) ]3 + … + P [1 / (1+i) ]n

Jadi

nPVAn = P ? [1 / (1+i) ]t

t=1

Dengan :

PVAn : present value annuity n-tahun

P         : pembayaran

i           : interest

dari  persamaan tersebut, penjumlahan disebut sebagai present value interest factor for an annuity (PVIFAi,n) yang bentuknya dapat ditulis :

PVIFAi,n = (1 / i) – [ 1 / i (1+i)n]

sehingga  persamaan untuk menghitung PVA dapat ditulis sebagai berikut :

PVAn = P (PVIFAi,n)

Ilustrasi, misalkan anuitas selama tiga tahun dengan pembayaran Rp. 100 juta, dengan bunga sebesar 5 %, maka dapat dihitung present value / nilai sekarang dari anuitas tersebut.

Diketahui :

P         =  Rp. 100.000.000,00

i           =  0,05

n          =  3

maka :

PVIFAi,n = (1 / i) – [ 1 / i (1+i)n]

= (1 / 0,05) – [ 1 / 0,05 (1+0,05)3]

= 2,7232

PVA3 = Rp. 100.000.000,00  (2,7232)

= Rp. 272.320.000,00

Sehingga nilai sekarang (present value) dari anuitas biasa sebesar Rp. 100.000.000,00 adalah Rp. 272.320.000,00

  • Anuitas Jatuh Tempo

Jika tiga pembayaran Rp 100 juta pada ilustrasi sebelumnya dilakukan padasetiap awal tahun, maka anuitas tersebut disebut anuitas jatuh tempo.

Dalam anuitas jatuh tempo, setiap pembayaran didiskontokan selama kurang dari satu periode. Karena pembayaran datang lebih awal, maka anuitas jatuh tempo lebih berharga dibandingkan dengan anuitas biasa, dan nilai yang lebih tinggi inidihitung dengan mengalikan PV anuitas biasa dengan (1+i), sehingga persamaannya menjadi :

PVn (Anuitas Jatuh Tempo) = P (PVIFAi,n) (1 + i)

Untuk ilustrasi di atas maka :

PVn (Anuitas Jatuh Tempo) = Rp. 100.000.000,00 (2,7232) (1,05)

= Rp. 285.940.000,00

Sehingga nilai sekarang (present value) dari anuitas jatuh tempo sebesar Rp. 100.000.000,00 adalah Rp.285.940.000,00

Nah, sekarang saatnya mulai membuat perencanaan keuangan Anda, sebab hari esok yang lebih baik dari hari ini, adalah harapan setiap orang.

Janganlah hanya bermimpi, tetapi rencanakan dan raihlah Sukses yang Anda harapkan.

Semoga bermanfaat dan Sukses Selalu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*